NOVEL BASWEDAN

Sepuluh Adegan diperagakan untuk Rekontruksi Kasus Novel

Polda Metro Jaya akhirnya melakukan 10 adegan untuk menyelidiki ulang kasus Novel Baswedan. Proses ini masuk ke tahap rekontruksi kasus penyiraman air keras pada penyidik KPK itu tepatnya hari Jumat (7/2) pagi ini.

Rekontruksi Lakukan 10 Adegan

Rekontruksi yang mana berlangsung selama kurang lebih 3 jam tersebut di depan kediaman Novel yang lokasinya di Jalan Deposito Blok T Nomor 8, Kelapa Gading, Jakarta Utara. “10 adegan, dan ada beberapa adegan tambahan sesuai dengan pembahasan tadi di lapangan sesuai dengan rekan-rekan Jaksa Penuntut Umum,” ungkap Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Dedy Murti saat di lokasi.

Dedy juga mengakui bahwa rekonstruksi digelar dalam merangka memenuhi syarat administrasi, baik formal maupun materiil pada berkas perkara kasus itu. Sebelumnya, Kejati DKI Jakarta telah mengembalikan berkas-berkas perkara kasus mantan penyidik KPK itu ke kepolisian dengan alasan adanya ketidaklengkapan 2 unsur tersebut. “Supaya alat buktinya dan keterangan para saksi serta tersangka bisa kami uji di lapangan,” ungkap Dedy lagi.

Setelah rekonstruksi, menurutnya, pihaknya akan segera melengkapi berkas perkaranya dan kemudian kembali lagi menyerahkan ke pihak kejaksaan.

Ia juga menyampaikan bahwa rekonstruksi ini merupakan rekonstruksi yang terakhir yang akan dilakukan terkait dengan kasus penyiraman ini. Ia menyebutkan sesuai kesepakatan dengan pihak kejaksaan, rekonstruksi kali ini telah dianggap cukup. Sebelumnya, Polisi menahan 2 orang tersangka penyiraman Novel Baswedan. Kedua tersangka tersebut adalah anggota kepolisian dari kesatuan Brimob dengan nama Ronny Bugis dan Rahmat Kadir.

Keduanya sampai dengan saat ini masih berstatus polisi aktif. Polisi sendiri menyatakan bahwa kedua baru akan diputuskan sesudah vonis pengadilan.

baru Terungkap 2 Tahun Setelah Kasus

Penyiraman air keras yang dilakukan kepada Novel Baswedan ini terjadi pada tahun 2017 silam, tepatnya tanggal 11 April. Novel disiram dengan air keras saat ia hendak pulang ke rumahnya setelah sholat subuh di masjid yang lokasinya dekat rumahnya yang terletak di Kelapa Gading, Jakarta.

Sejak saat itu, polisi berusaha untuk mencari pelaku-pelakunya. Akan tetapi siapa pelakunya baru bisa ditangkap pada Desember 2019 lalu. Keduanya terancam akan dijerat dengan pasal 170 KUHP subside 351 ayat 2 KUHP soal perbuatan totobet tindak pidana pengeroyokan secara terang-terangan. Dan atas perbuatannya tersebut, mereka terancam dipidana paling lama 5 tahun 6 bulan.

Kendati dua tersangka sudah ditetapkan oleh polisi, tim advokasi Novel Baswedan sendiri diklaim menemukan dugaan sejumlah kejanggalan dalam pengungkapan 2 polisi aktif yang diduga menyerang penyidik KPK tersebut. Anggota tim kuasa hukum Novel, yaitu Alghiffari Aqsa mengungkapman bahwa pihaknya menerima SP2HP (Surat Perkembangan Hasil Penyidikan) yang tertanggal 23 Desember 2019 yang mana menyatakan bahwa pelaku belum diketahui.

Tak Cuma itu, ada perbedaan informasi juga di mana satu sisi menyebutkan kedua polisi itu menyerahkan diri, akan tetapi keterangan lain mengungkapkan mereka ditangkap. Alghif pun mengungkapkan bahwa tim advokasi merasa temuan dari polisi ini seolah-olah baru sama sekali. “Misalnya apakah orang yang menyerahkan diri mirip dengan sketsa-sketsa wajah yang pernah beberapa kali dikeluarkan oleh Polri. Polri harus menjelaskan keterkaitan antara sketsa wajah yang pernah dirilis dengan tersangka yang baru saja ditetapkan,” pungkasnya.

Berkas perkara keduanya pasalnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta tanggal 16 Januari kemarin. Akan tetapi, Kejati kemudian mengembalikan berkas perkara itu pada tanggal 28 Januari dengan alasan kurangnya syarat formil dan materiil.